ZONA NEWS (ZNN) | Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu mengungkapkan kekhawatiran serius yang disampaikan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) soal potensi kekacauan nasional pada Juli-Agustus 2026 jika pemerintah tak segera mengambil kebijakan tepat di bidang ekonomi dan fiskal.
Hal itu disampaikan
Said Didu dalam wawancara bersama wartawan senior Edy Mulyadi yang ditayangkan
di kanal YouTube-nya, Senin (23/3/2026).
Didu mengungkapkan
bahwa dirinya dipanggil JK pada 17 Februari lalu untuk berdiskusi selama hampir
dua jam. Dalam pertemuan itu, JK menyampaikan dua ancaman besar yang tengah
mengimpit Indonesia: tekanan geopolitik akibat ketegangan Iran-Amerika Serikat,
serta warisan utang besar peninggalan pemerintahan Joko Widodo.
“Pak JK betul-betul
prihatin terhadap keadaan yang dihadapi negara,” ujar
Said Didu.
Ia juga menceritakan
pertemuan pada 15 Maret 2026 yang mempertemukan dirinya, JK, dan mantan
Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.
Pertemuan itu kemudian
ramai diperbincangkan publik dan ditafsirkan beragam, termasuk oleh kalangan
istana yang disebutnya sempat mempertanyakan maksud JK.
“Saya sempat dikontak,
mempertanyakan mau apa JK,” kata Said Didu.
Ia pun meluruskan bahwa
pertemuan tersebut murni untuk mencari jalan keluar bagi persoalan bangsa,
bukan manuver politik.
Pesan Rahasia untuk
Prabowo
Said Didu mengungkapkan
bahwa JK memiliki sembilan pesan khusus yang hanya boleh disampaikan langsung
kepada Presiden Prabowo Subianto, bukan kepada publik.
JK, kata Didu, secara
khusus memintanya merahasiakan isi pesan demi menjaga stabilitas dan ketenangan
pemerintah dalam mengambil keputusan.
Meski tak membuka isi
lengkap pesan tersebut, Didu menyebut bahwa pesan itu mencakup tiga nama yang
dinilai berpotensi merusak pemerintahan Prabowo, tiga program yang dianggap
berbahaya, serta tiga solusi yang perlu segera diambil.
Soal ancaman keos, Didu
memaparkan kalkulasi sederhananya: dalam dua bulan pertama pemerintahan sudah
terjadi defisit sekitar 200 triliun rupiah.
ika tren itu berlanjut
hingga Juli-Agustus, defisit bisa menembus 1.000 triliun rupiah, angka yang
disebutnya hampir mustahil diatasi dengan cara apa pun.
“Jalan-jalan akan
berlubang, daerah tidak ada uang lagi, Puskesmas sudah enggak bisa melayani,”
kata Didu menggambarkan skenario terburuk yang bisa terjadi.
Lingkaran Pembisik
Bermasalah
Said Didu juga
menyoroti keberadaan “faksi pembisik” di sekitar Presiden Prabowo yang ia nilai
kerap mencap tokoh-tokoh kritis sebagai pengkhianat atau antek asing demi
mempertahankan posisi mereka di lingkaran kekuasaan.
“Faksi ini tidak punya
kualitas. Mereka hanya ada nilainya apabila bisa memberikan cap kepada orang
baik bahwa dia adalah musuh,” tegasnya.
Ia menegaskan bahwa
dirinya, JK, maupun Gatot Nurmantyo tidak sedang beroposisi terhadap Prabowo.
Justru sebaliknya, mereka berupaya membantu pemerintah mencarikan solusi.
Masih Berharap pada
Prabowo
Meski frustrasi dengan
cara-cara yang ditempuh pemerintah, Said Didu menegaskan ia masih mempercayai
niat baik Presiden Prabowo.
Kesimpulan itu ia
peroleh setelah serangkaian pertemuan dengan berbagai tokoh nasional, antara
lain Prof. Emil Salim, Dahlan Iskan, Sofjan Wanandi, dan Peter Gontha.
Saat ada wacana dari
sebagian kelompok oposisi untuk menjatuhkan Prabowo dan Gibran sekaligus, Didu
menolak tegas.
Menurutnya, opsi itu
justru kontraproduktif karena hanya akan membuka jalan bagi kembalinya kelompok
yang ia sebut “geng Solo oligarki” untuk menguasai negara.
“Jauh lebih gampang memperbaiki orang-orang di sekitar Prabowo daripada menjatuhkan Prabowo,” pungkasnya.
sumber : jakartasatudotcom/

No comments:
Post a Comment