ZONA NEWS (ZNN) | Memasuki hari kelima operasi militer besar-besaran terhadap Iran, Rabu (4/3/2026), Amerika Serikat (AS) mulai dihadapkan pada kenyataan pahit di lapangan: stok amunisi mereka tidak sedahsyat retorika politiknya. Laporan internal menunjukkan Pentagon mulai kewalahan menjaga ketersediaan rudal-rudal krusial.
Seorang pejabat senior Washington membocorkan kepada CNN bahwa persediaan rudal serang darat Tomahawk dan rudal pencegat SM-3 menyusut lebih cepat dari perkiraan. Padahal, eskalasi serangan ke Teheran diprediksi bakal memuncak dalam 24 jam ke depan.
Efek Domino Perang Ukraina
Paceklik amunisi ini sebenarnya sudah tercium sejak lama. Selama empat tahun terakhir, gudang senjata AS terkuras habis untuk menyokong pertahanan udara Ukraina melawan Rusia. Kini, ketika 'pintu neraka' terbuka di Timur Tengah, Pentagon baru menyadari bahwa cadangan rudal Patriot mereka tak lagi melimpah.
Laporan dari The Middle East Monitor menyebutkan bahwa fase pertama serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu memang berhasil mengacak-acak pertahanan Iran. Namun, untuk melanjutkan ke fase berikutnya—menghancurkan fasilitas produksi drone dan pangkalan angkatan laut Iran—AS butuh ribuan amunisi presisi tambahan.
Masalahnya, jika perang ini molor lebih dari 10 hari, militer AS diprediksi bakal benar-benar kehabisan 'napas' logistik untuk beberapa jenis senjata tertentu.
Perang Mahal Melawan Senjata Murah
Ada ketimpangan ekonomi yang sangat ironis dalam konflik ini. Pakar militer dari Stimson Center, Christopher Preble, mengingatkan bahwa sistem pertahanan canggih seperti THAAD atau Patriot dirancang untuk menghadapi serangan terbatas, bukan rentetan rudal Iran yang relatif murah namun berjumlah masif.
Sebagai gambaran, satu baterai THAAD harganya selangit, mencapai US$1 miliar hingga US$1,8 miliar. Menembakkan satu rudal pencegat seharga jutaan dolar hanya untuk menjatuhkan rudal lawan yang produksinya cuma ribuan dolar adalah resep jitu menuju kebangkrutan logistik.
Rudal canggih seperti SM-6 atau Patriot bukan barang yang bisa diproduksi instan. Butuh waktu berbulan-bulan untuk merakit, menguji, hingga mengirimnya ke garis depan.
Trump Ngotot, Pentagon Cemas
Di tengah kecemasan para jenderal, Presiden Donald Trump justru tampil dengan kepercayaan diri yang meluap. Melalui platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa pasokan senjata AS 'nyaris tak terbatas'.
"Perang dapat berlangsung selamanya dan sangat berhasil hanya dengan menggunakan persediaan ini," tulis Trump, Selasa (3/3/2026).
Padahal, sehari sebelumnya, Trump sempat mengakui bahwa rencana awal yang diproyeksikan hanya berlangsung 4-5 pekan bisa saja molor lebih lama. Perbedaan pandangan antara 'ego' politik di Gedung Putih dan realitas teknis di Pentagon ini menjadi bom waktu yang bisa membahayakan operasi militer AS di kawasan tersebut.
Kini dunia menunggu: mampukah pabrik-pabrik senjata Amerika mengejar kecepatan dentuman meriam di Teheran, ataukah Paman Sam harus mengerem ambisinya karena kehabisan peluru?
Sumber : inilahdotcom

No comments:
Post a Comment