ZONA NEWS (ZNN) | Apa benar pemerintahan Prabowo Subianto harus membayar utang
jatuh tempo pada tahun ini sebesar Rp833,96 triliun, atau yang tertinggi
sepanjang periode 2025–2036.
Sebagai informasi, rezim Jokowi disebut mewariskan utang dalam jumlah jumbo
kepada Presiden Prabowo, yakni sekitar Rp8.353 triliun.
Dalam laporan Analisis Kritis Keberlanjutan Utang Indonesia 2026 yang
disusun Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), fenomena tersebut
disebut sebagai “tembok utang” (debt wall), yakni kondisi ketika beban jatuh
tempo utang menumpuk dalam satu periode tertentu.
Pada tahun ini, tekanan tersebut semakin terlihat. Indonesia harus
menghadapi “tembok utang” dengan porsi jatuh tempo mencapai Rp833,96 triliun,
yang merupakan puncak tertinggi dalam siklus pembayaran utang periode
2025–2036. “Naik dibanding tahun lalu sebesar Rp800,33 triliun,” tulis laporan
tersebut, dikutip Selasa (21/4/2026).
Tekanan likuiditas itu tidak muncul secara tiba-tiba. Besarnya kewajiban
tersebut merupakan akumulasi penerbitan utang pada tahun-tahun sebelumnya,
termasuk skema burden sharing antara pemerintah dan Bank
Indonesia (BI) selama pandemi COVID-19.
Besarnya volume utang yang jatuh tempo mendorong pemerintah melakukan
strategi pembiayaan ulang (refinancing) dalam skala besar. Namun,
langkah tersebut tidak lepas dari risiko, terutama di tengah suku bunga global
yang masih tinggi dan volatilitas pasar yang meningkat, yang berpotensi membuat
biaya utang semakin mahal.
"Peningkatan tajam pada komponen burden sharing pada
2026 mencerminkan berakhirnya masa 'bulan madu' likuiditas murah dari bank
sentral. Pemerintah kini harus berhadapan langsung dengan mekanisme pasar untuk
menambal lubang yang ditinggalkan oleh instrumen-instrumen tersebut,"
imbuhnya.
Guna mengantisipasi risiko tersebut, pemerintah menerapkan strategi front-loading,
yakni menarik utang lebih awal, salah satunya melalui penerbitan global bond
senilai US$2,7 miliar pada awal 2026. Langkah ini bertujuan mengamankan
likuiditas sebelum kondisi pasar semakin tidak pasti, namun juga memiliki
konsekuensi.
Imbal hasil obligasi global Indonesia tercatat 5,50 persen untuk tenor 30
tahun, mencerminkan meningkatnya biaya utang di mata investor global. Dengan
kata lain, stabilitas jangka pendek harus dibayar dengan beban bunga yang lebih
besar dalam jangka panjang.
"Hal ini mengonfirmasi pandangan banyak pihak bahwa Indonesia sedang
melakukan pertukaran antara stabilitas jangka pendek dengan beban bunga jangka
panjang yang akan membebani generasi mendatang," jelasnya.
Meskipun pertumbuhan ekonomi diprediksi menguat menjadi 5,1 persen pada
2026, defisit anggaran yang melebar juga secara otomatis mendorong
rasio utang ke level yang lebih tinggi.
Fenomena ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadi
bersifat debt-driven (digerakkan oleh utang), bukan didorong
oleh peningkatan produktivitas atau investasi secara mandiri.
"Selain itu, penurunan cadangan devisa pada awal 2026 menjadi indikasi
awal bahwa intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah mulai
menggerus bantalan eksternal Indonesia di tengah meningkatnya beban pembayaran
utang luar negeri," imbuhnya.

No comments:
Post a Comment